Tak untuk dipuja
Tak untuk dipuja
Tasikmalaya, sept 3 08
Wed, 11:12 pm
Aku bangga menjadi bagian jiwamu
Meski aku terletak di akhir bagian itu
Aku bangga menjadi diriku yang ada untukmu
Meski curahan darahku tak sebanyak yang kau aliran untukku
Aku bangga menjadi apa yang mampu selalu kau lihat
Meski sedikit cintamu memahat
Aku bangga menjadi apa yang kau injak
Meski sedikit tapak kakiku ku berjejak
Aku bangga menjadi apa yang kau sandarkan
Meski tak semua yang kusarankan kau nyatakan
Namun aku sadar kawan
Aku hanyalah sesosok mahkluk penuh kelemahan
Aku terbatas tuk membuat segalanya pantas
Seonggok kapas puntak mampu ku angkat
Jika telah nampak beban berat melekat di pundak
Jika telah nampak aku berlumur darah
Tergeletak diatas segala perintah
Aku hanyalah manusia yang penuh keluh kesah
Aku hanyalah seperti ini
Tak lebih seperti apa yang kau lihat
Sebuah mayat yang diberi nyawa
Lalu hidup dengan meniadakan cahaya
Hingga terbelenggu gelap dan tak bisa apa-apa
Hanya dengan sabar dan tawakal aku mampu berdiri dan berlari seperti ini
Inilah segudang keterbatasan yang aku punya
Yang telah membawa aku ada di bagian-bagian jiwa manusia
Untuk di cerca dan dihina
Tak untuk dipuja
No Comments »
Filed under: Uncategorized tagged puisi




